Entah apa yang membuatnya membenciku, tapi yang pasti aku selalu merasakan tatapan benci dari matanya dan dia selalu menghindar setiap aku ingin berbicara dengannya. Tapi dia biasanya selalu saja marah-marah dan tegas, hal yang wajar mengingat dia adalah seorang ketua kelas yang sangat bertangug jawab…
“OOTORI-KUN!!!!”,
aku tersadar dari lamunanku ketika namaku mendadak dipanggil. Aku sangat mengenal suaranya, suara yang selalu tegas dan berwibawa apalagi dengan nadanya yang tinggi setiap memanggil namaku, itu Minami Yui-san, ketua kelas di kelasku
”Kenapa malah bengong!? Ini catatan punyamu!! Kalau tidak diterima biar kubuang saja!!! Kau sudah cari Wakashi-kun belum!? Bukunya ada padaku juga, nih”,
benar, kan...! Dia selalu saja meninggikan nadanya setiap berbicara denganku, entah apa kesalahanku tetapi yang pasti aku merasa kalau dia membenciku.
”Ah...Maaf, Minami-san”, aku menerima buku catatanku dan memasukannya ke dalam tas, kemudia aku beranjak dari tempatku duduk dan pergi keluar kelas untuk mencari Wakashi tanpa membawa tas karena masih ada tugas piket sepulang sekolah dan club tennis tentunya.
Saat aku sedang berjalan-jalan cukup lama di koridor kelas untuk mencari Wakashi, aku melihat Shishido-san bersama Oshitari-san yang sedang mengbrol di depan kelas mereka, Shishido-san kemudian melihat ke arahku dan memanggiku
”Hei, Choutaro!! Nanti kau latihan bersamaku, ya! Aku ingin mencoba defense ku makanya nanti kau pakai Neo Scud Serve mu saja sekalian, ya!”, Kata Shishido-san meminta padaku.
”Ah, baik! Ngomong-ngomong, kalian melihat Wakashi tidak? Aku lagi mencarinya untuk menyerahkan catatan di kelas”
”Wakashi? Bukannya tadi dia sudah balik ke kelas duluan? Tidak berpapasan, ya?”, Tanya Oshitari-san
”Eh? Tidak, tuh! Kalau begitu aku akan kembali ke ke—”, belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, namaku tiba-tiba dipanggil lagi oleh suara yang tidak asing lagi bagiku
”OOTORI-KUN!!! Kau mau bolos tugas piket, ya?? Sampai berani bolos tasmu akan kubakar nanti!!!”, bentak Minami-san padaku
”Ah....Maaf!! Aku mencari Wakashi dan aku tidak tahu kalau dia sudah ke kelas, maafkan aku...”, kataku dengan sedikit panik karena tentu saja aku tidak mau tasku dibakar, karena di dalamnya juga ada raketku. Sesaat dia tak mengatakan apapun, kemudian ia mendekat dan menggenggam tanganku dan membuatku sedikit berdebar, mungkin karena baru pertama kali tanganku digenggam olehnya
”Maaf, itu juga salahku karena menyuruhmu mencarinya dan tidak memberitahumu kalau dia sudah kembali! Nah, sekarang ayo kerjakan tugas piket! Senpai...Kami permisi dulu, ya”, dia menunduk pada Shishido-san dan Oshitari-san kemudian pergi ke kelas sambil tetp menggandeng tanganku. Sesampainya di kelas...
”Minami-san, maaf tapi sampai kapan kau mau menggenggam tanganku?”, kataku padanya, dia berbalik dan menatap tangannya, mendadak mukanya memerah dan langsung melepas genggamannya
”Ja....Jangan salah paham!! Ini....Supaya kau tidak kabur tugas piket tahu!! Ka...Kau jangan berpikir yang macam-macam!!”, katanya kalap. Aneh, seingatku meski terlambat, aku tidak pernah bolos piket. Tapi sesaat kutatap wajahnya yang memerah itu terlihat sangat manis ketimbang saat dia berwajah tegas.
Setelah itu kamipun mengerjakan tugas piket bersama, dimulai dari menyapu lantai, membersihkan papan tulis, merapikan buku di rak belakang, dan kamudian mulai mengisi laporan piket untuk diserahkan kepada wali kelas kami. Sudah mulai sore, aku harus segera menyelesaikan ini semua karena harus buru-buru ke club kalau tidak mau dihukum Atobe-san. Saat ingin kukerjakan laporan tersebut, mendadak Minami-san menyambar buku laporan tersebut
”Yang ini biar aku yang kerjakan, Kau pergi saja! Kau masih ada kegiatan club, kan? Biar laporan dan mengunci jendela aku yang kerjakan, nanti kau malah telat dan dimarahi Atobe-senpai lagi”, katanya sambil mengeluarkan kotak pensil dan mengeluarkan pulpennya. Entah karena aku kaget atau bingung, tanpa sadar aku malah jadi memandangnya karena kata-katanya tadi. Ternyata sedikitnya dia memikirkanku juga. Saat kutatap wajahnya saat itu, kulihat wajahnya mulai memerah lagi dan pasang wajah cemberut seakan berkata ”sudah cepat pergi sana!!”, manis...ternyata jika dilihat dari dekat wajahnya sangat manis, akupun tersenyum tanpa rasa panik lagi
”Kalau begitu terima kasih, ya! Maaf aku merepotkanmu”, setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung menggendong tasku dan buru-buru pergi ke klub tennis, untung sekali aku tidak terlambat dan tidak dimarahi, sedikitnya aku berterima kasih pada Minami-san
+++
Selesai latihan di klub dan berganti baju, tiba-tiba aku menyadari kalau kotak pensil dan buku catatanku tertinggal di kelas. Warna langit sudah mulai gelap, baju yang belum benar sepenuhnya kupakai itu kubiarkan saja dan aku langsung lari ke kelasku, tanpa kotak pensil dan buku catatan tentu saja aku jadi tidak bisa membuat PR ku. Setelah sampai di kelas dengan terengah-engah, tiba-tiba kulihat seseorang yang sedang tertidur di meja tempatku akan mengisi laporan piket tadi. Ya! Tidak lain orang it adalah Minami-san. Aku perlahan mendekat padanya, membuat langkahku tak bersuara sekecil apapun suara itu agar tak membangunkannya. Kulihat laporan piket sudah selesai dikerjakan, jendela juga sudah dikunci,
”ternyata dia memang seorang ketua kelas yang bertanggung jawab”, pikirku dalam hati. Kutatap lekat-lekat wajah tenangnya yang tertidur itu, dia terlihat sangat tenang dan damai dengan ekspresi yang sangat berbeda dengan di kelas yang biasanya jadi sumber ketegasan sikapnya di Sekolah. Entah apa yang mempengaruhiku, tanpa sadar tanganku mengusap kepalanya yang membuatnya mengigau pelan karena kusentuh. Aku terus mengusap kepalanya perlahan, dan saat kusadari tiba-tiba ia terbangun, sontak aku langsung melepaskan tanganku dari usapan yang sejak tadi kulakukan
”Ng....Aku ketiduran, ya...Ootori-kun...Kau tidak jadi latihan klub??”, katanya yang sepertinya masih setengah tertidur
”Sudah selesai sejak tadi, sekarang sudah hampir malam, aku mau mengambil kotak pensil dan catatan yang tertinggal, kau kenapa tertidur di sini?”, tanyaku yang tiba-tiba membuat matanya terbelalak dan langsung mengusap-usap matanya
”A...Ap?? Sudah hampir malam katamu!? Gawat!! Laporan ini belum kuberikan pada Yagami-sensei!! Ootori-kun, bisakah kau menema—”, ucapannya tiba-tiba terhenti, mukanya memerah lagi
”A...Ap yang kau lakukan!! Kau pakai baju bagaimana, sih!!?”, katanya kalap dan mukanya memerah padam, aku baru sadar kalau tadi aku pakai baju belum benar saking aku terburu-buru ingin mengambil kotak pensil dan buku catatan. Melihatnya yang kalap itu, langsung saja kurapikan bajuku, setelah rapi aku menyuruhnya tenang dan menemaninya menaruh buku laporan itu di meja Yagami-sensei.
:”Sudah gelap, tidak baik kalau kau jalan sendirian, biar kuantar, ya”, tawarku padanya
”Tidak perlu! Aku bisa sendiri, lagipula aku masih harus belanja makan malam dulu, kau langsung pulang saja”, katanya dengan yakin, dengan sedikit merasa cemas aku mengiyakan kata-katanya dan kamipun berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
+++
Hari masih cukup pagi, jam menunjukkan pukul 6 pagi, aku yang sudah rapi dan menenteng tas siap pergi untuk latihan pagi di Sekolah. Udara pagi sangat sejuk, memuat pikiran makin jernih dan bisa konsentrasi saat latihan pagi ditambah lagi membuat semangat di pagi hari karena udaranya juga masih sangat sejuk. Setelah latihan cukup lama, kami dibiarkan istirahat selama 15 menit, akupun berjalan menuju keran air. Saat sedang minum, aku melihat ada yang berjalan ke arah taman bunga di belakang lapangan, karena penasaran akupun menuju ke taman tersebut dan dikejutkan oleh seorang yang sangat tidak asing bagiku, Minami-san yang tangannya berlumur tanah
”Mi...Minami-san....Kau sedang apa??”, tanyaku yang membuatnya terkejut dan tiba-tiba terjatuh dari sikapnya yang sedang setengah duduk
”O...Ootori-kun...Ke...Kenapa kau disini...!?”, tanyanya kalap
”Aku sedang latihan klub pagi, kau sendiri lagi apa? Tanganmu berlumuran tanah begitu? Jangan-jangan yang merawat semua bunga-bunga ini kau sendirian??”, tanyaku sedikit ragu
”..........Begitulah, aku melihat bunga-bunga ini hampir layu sebelumnya, jadi aku merawatnya, apalagi kalau sudah mekar pasti jadi lebih terlihat indah...”, jelasnya padaku yang membuatku merubah lagi sedikit pandanganku tentangnya. Dia tidak hanya tegas dan bertanggung jawab, tapi dia juga memperhatikan lingkungan dan pecinta tumbuhan
”Choutaro!! Kau sedang ap!? Sebentar lagi kita mulai latihan lagi”, panggil Shishido-san dari sudut pandang depan sehingga dia tidak menyadari ada Minami-san di sini
”Kenapa malah bengong? Kau harus melanjutkan latihan, kan? Sana pergi! Nanti kau dimarahi!”, perintahnya padaku dengan nada tegasnya. Tanpa bicara apapun lagi aku langsung menuju ke Lapangan untuk melanjutkan latihan pagi
Setelah selesai latihan pagi, aku pergi ke taman bunga belakang lapangan hanya untuk sekedar memeriksa apakah Minami-san masih di sana atau sudah ke kelas. Sesampainya di sana, yang kulihat mengingatkanku pada pemandangan kemarin, Minami-san yang tertidur di bangku taman dengan tangannya yang masih kotor dengan tanah, pasti setelah merawat bunga-bunga itu, dia langsung tertidur tanpa mencuci tangannya dulu. Kutatap lagi lekat-lekat wajahnya, entah apa lagi yang mempengaruhiku, aku langsung menggenggam tangannya yang berlumur tanah itu dan duduk di sampingnya,menunggunya bangun
Sesaat kemudian, ia akhirnya bangun dengan sedikit desahan karena baru bangun tidur, sontak aku melepas genggamanku dan berusaha menenangkan diriku sendiri sambil berkata pada diriku sendiri ”tenang, Choutaro! Kau harus tenang” pikirku menenangkan diri dalam hati
”Nggh....Ootori-kun...”, lagi-lagi dia mengusap cepat matanya dengan lengan bajunya
”Ka...Kau lagi ap!? Latihanmu sudah selsesai? Kenapa kau disini??”, sontak dia berdiri dan kalap lagi, entah kenapa aku hanya bisa tersenyum dan kemudian berkata pelan padanya
”Cucilah tanganmu, Minami-san, kau juga tidak boleh tidur disini, nanti kau masuk angin”, lagi-lagi wajahnya memerah, dengan cepat ia langsung menuju keran untuk cuci tangan. Entah kenapa, sejak mengetahui ada beberapa sisi manisnya, aku jadi tidak bisa membiarkannya terus bekerja sendiri seperti layaknya ketua kelas teladan, ia pasti juga kerepotan
Di Kelas, saat guru hampir datang, Minami-san yang berusaha mendiamkan suasana kelas agar tenang, saat itu sisi ketegasannya terlihat lagi, saat seperti itu biasanya aku langsung dimarahi karena tidak suka kalau dia diperhatikan saat sedang mengatur kelas seperti ini. Tapi saat itu, melihat sisi ketegasannya lagi, entah kenapa saat ia menoleh padaku, aku bukannya merasa panik tapi justru malah tersenyum padanya, mukanya kembali memerah meski tidak semerah tadi pagi, dia langsung memalingkan mukanya dan tidak memarahiku
”Tumben kau tidak dijiadikan korban kemarahannya seperti biasa...”, seseorang dengan suara bernada datar terdengar di sampingku, orang itu adalah Wakashi Hiyoshi, temanku sejak SD sekaligus teman sebangkuku
”Biasanya kau selalu dimarahi olehnya setiap kau menatapnya, apa ada seuatu yang membuatnya tambah benci padamu sampai kau diacuhkan begitu?”, tanyanya padaku. Aku hanya tersenyum karena tahu Minami-san mengacuhkanku bukan karena dia membenciku, melainkan karena malu aku mengetahui sedikit aktivitasnya yang tak diketahui orang di Sekolah ini
+++
Waktu istirahatpun akhirnya datang juga, aku berencana untuk memakan bekalku di kelas Shishido-san seperti biasanya. Saat aku sedang berjalan di koridor, aku melihat Minami-san yang seharusnya sedang ke kantin untuk membeli makanan tetapi kulihat dia sedang membawa barang-barang yang sepertinya berat dan disuruh guru untuk dibawa ke gudang peralatan. Tadinya aku hanya melihatnya saja, tapi lama-lama kulihat dia merasa berat dengan barang-barang yang banyak itu dan hampir jatuh, sontak saja aku berlari ke arahnya dan menopangnya agar tidak jatuh, saat dia menoleh padaku, sontak ia menjauh dan barang-barang yang dibawapun akhirnya berjatuhan juga
”Tidak baik kalau kau membawa barang-barang seberat itu sendirian, kenapa kau tidak minta tolong untuk bantu dibawakan?”, tanyaku padanya
”Be...Berisik!! Bukan urusanmu, kan! Sensei minta aku yang membawakan jadi kubawa saja sendiri, aku tidak butuh bantuan orang lain karena sensei mengandalkanku!!!”, jawabnya dengan nada marah. Meski dia bilang begitu, tapi aku tetap tak bisa membiarkannya begitu saja, jadi kuambil setengah barang yang dibawanya tadi dan mengulurkan tanganku dengan maksud untuk membantunya berdiri
”Bangunlah! Aku akan membantumu membawa barang-barang ini”, tawarku dengan nada sedikit memaksa padanya
”Tidak perlu! Aku bisa membawanya sendiri! Kau tidak perlu bersikap sok baik karena aku tidak akan terpengaruh dengan sifatmu i---”, entah apa yang membuatku tiiba-tiba jadi kesal dengan kata-katanya tadi, tanpa sadar aku jadi menggenggam erat lengannya dan menariknya bangun
”Jujur saja! Aku membantumu bukan karena sok baik!! Aku membantumu karena aku memang mau!”, tanganku semakin erat menggenggamnya, begitu sadar yang kulihat adalah wajahnya yang kesakitan dan terlihat takut dan lemas,
”Ma...Maaf!! Aku tidak bermaksud menyakitimu...”, dengan panik aku meminta maaf padanya, tubuhnya makin terlihat lemas, biasanya saat begini dia memarahiku, tapi yang terjadi sekarang justru dia tak bicara apapun
”.......Tidak perlu minta maaf....Kalau kau mau membantuku....Aku berterima kasih”, nadanya terdengar sangat lirih, entah apa yang dipikirkannya saat itu yang pasti aku merasa sangat bersalah padanya.
Akhirnya kami sampai di gudang peralatan dan menyimpan barang-barang tadi, kulihat Minami-san terlihat pucat dan kelelahan, karena cemas akupun tanpa aba-aba memegang dahinya
”Ma...Mau apa kau!?”, mendadak ia menampik tanganku dan mundur jauh ke belakang. Lagi-lagi mukanya memerah, tapi terlihat pucat, dia sakit!! Akupun langsung menahannya di dinding agar da tak bergerak untuk kabur dan bisa mengukur suhunya
”A...Apa yang kau lakukan?? Ootori-kun!! Lepaskan aku!!”, aku menghiraukan kata-katanya dan menempelkan keningku di keningnya, suhu badannya benar-benar panas, dia benar-bena sakit
”Kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang sakit? Kau bisa pingsan kalau memaksakan diri”, kataku cemas
”Uh...Biar saja....Lebih baik..Aku pingsan...Daripada...Tidak bisa....Jadi orang...Yang bisa....Diandalkan.......”, tubuhnya terus melemas dan badannya semakin panas, kemudian ia pingsan, akupun lagngsung lari dan membawanya ke ruang kesehatan. Di sana guru kesehatan menyuruhku membaringkannya di tempat tidur dan akupun kembali ke kelas.
+++
Esoknya, selesai pelajaran aku mengajukan diri pada sensei untuk mengantarkan catatan pada Minami-san karena hari ini Minami-san tidak masuk karena sakit. Aku ingin tahu keadaannya sekaligus menanyakannya kenapa kemarin ia langsung pulang tanpa memberitahuku, padahal aku ingin menolongnya untuk pulang ke rumahnya kemarin
Sesampainya di rumahnya dan membunyikan bel, yang menyambutku adalah 3 orang anak kecil yang sepertinya adik-adik Minami-san. Aku memberitahu pada mereka tujuanku ke sini dan mereka langsung menarikku masuk
”Yui-neechan.....Temannya datang”, ternyata benar mereka adik-adiknya, mereka langsung menyuruhku masuk ke kamar Minami-san, agak gugup juga karena harus berhadapan dengannya saat ia sakit, di kamarnya pula
”Permisi....Minami-san...? Aku kemari membawa catatan hai ini”, aku pun masuk ke kamarnya, saat melihatnya tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan tidak tenang. Penampilannya saat itu sangat berbeda dengan di Sekolah, dengan piyama lengan pendek dan rambut yang biasanya diikat, kini diurai karena ia di tempat tidur dan sedang sakit
”O....Ootori-kun!!?”, tiba-tiba ia langsung menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuh bahkan mukanya, sepertinya ia tidak mau dilihat dalam penampilan begitu.
”Ke....Kenapa kau ada di sini!?”, suaranya hampir tak terdengar karena tertutup selimut, tapi terdengar jelas kalau dia sedang kalap
”Maaf...Aku mengantar catatanmu hari ini dan.......Bagaimana keadaanmu?”, tanyaku, dia tak menjawab hanya tetap diam di dalam selimutnya
”Hei...Kalau kau sperti itu aku jadi tidak bisa mendengarmu, kan? Keluarlah dari selimut”
”Tidak mau!! Kau pulang saja!! Sekarang aku benar-benar berantakan, aku pakai piyama dan rambutku juga tidak rapi karena terus tidur dari pagi, makanya kau pulang saja! Terima kasih catatannya, besok aku akan masuk”, aku terdiam dengan kata-katanya, tidak kusangka ternyata dia juga sangat memperhatikan penampilannya. Sebenarnya bukan hal aneh karena dia seorang wanita, tapi entah kenapa aku hanya kaget saja
”Ternyata meski tegas dan galak, Minami-san itu memang seorang ”wanita”, ya”, tiba-tiba saja kata-kata itu melontar dari mulutku
”HEI!! Apa maksud kata-katamu itu!!!?”, dengan nada kesal dan tinggi, dia mendadak keluar dari selimut. Dapat kulihat rambutnya yang teruarai lembut meski berantakan dan wajah kesalnya karena kata-kataku tadi
”Akhirnya kau keluar dari selimut juga, seperti ini lebih mudah mengobrol, kan”, kataku sambil tersenyum padanya. Sadar dirinya keluar dari selimut, sontak ia masuk lagi ke dalam selimut
”Hei! Jangan begitu, aku tidak akan menertawakan penampilanmu, kok! Keluarlah dari selimut dan tatap aku”, suruhku padanya dengan sedikit kesal
”Tidak mau!! Aku benar-benar berantakan sekarang!!”, suaranya kembali tertutup selimut dan hampir tak terdengar. Lama-lama aku merasa agak kesal dan menarik selimutnya
”KYAAAAAAA!!! Apa yang kau lakukan?? Jangan lihat aku!!! Aku benar-benar berantakan dan tidak rapi!!”, dia berusaha merebut kembali selimutnya, tapi saat itu juga kulempar selimutnya dan kutahan kedua tangannya, kemudian kurebahkan dia ditempat tidur
”Kau tidak perlu malu, Minami-san! Kau sedang sakit, jadi wajar kalau rambutmu berantakan dan kau tidak rapi. Aku juga tak akan memberitahukan pada siapapun tentang penampilanmu ini”, kataku pada Minami-san yang wajahnya mulai memerah lagi, entah itu karena dia sakit atau karena malu
”Le....Lepaskan aku...Ootori-kun mesum!!!!”, tentu aku tidak bermaksud apa-apa padanya, dia terus meronta mungkin karena gugup, akupun melepas tanganku
”Maaf...Aku tidak bermaksud macam-macam padamu, kok. Kalalu begitu....Aku pulang dulu, ya”, aku mengambil tasku dan berjalan keluar rumah Minami-san tanpa bicara apapun, aku sudah mempermalukan diriku sendiri di depannya terlebih sampai membuatnya salah paham di kamarnya tadi
”OOTORI-KUN!!!”, sebuah suara yang terdengar serak dan lemah berteriak di belakangku, saat kutengok, Minami-san yang ada di balkon rumahnya dengan nafas terengah-engah karena teriak tadi
”A...Anoo.....Aku minta maaf....Te...Terima kasih....Catatannya...Besok...Aku akan masuk....Jadi kau....Tidak perlu khawatir, ya...”, suaranya terbata-bata, entah karena kelelahan teriak tadi atau ada alasan lain, yang pasti aku sangat senang dengan kata-katanya itu. Tanpa sadar, ternyata dadaku merasakan suatu perasaan yang tidak biasa, rasanya sedikit sakit dan jantungku berdegup sangat kencang, entah perasaan apa ini tapi kuabaikan saja karena senang akan kata-kata Minami-san
+++
Hari masih cukup pagi, waktu menunjukkan pukul 6 dan aku sudah siap ke Sekolah untuk latihan pagi
”Aku berangkat”, aku membuka pintu untuk keluar rumah, dan saat kulihat di depan pagar ada seseorang yang sepertinya menungguku, sosok yang tidak asing, bahkan sudah sangat kukenal, Minami-san! Benar! Itu Minami-san
”Mi...Minami-san...Apa yang kau lakukan di rumahku?? Apa kau sudah sembuh?”, tanyaku sedikit cemas mengingat kemarin ia masih sakit
”Ng...Tenang saja...Aku sudah sembuh...Terima kasih catatannya, ini kukembalikan”, dia mengeluarkan buku catatanku dan memberikannya padaku
”Kan bisa diserahkan nanti, tidak perlu sekarang”, aku menerimanya dan kemudian menatap Minami-san, dia tidak menjawab apapun jika diperhatikan baik-baik wajahnya masih sediki pucat
”Hei...Minami-san...Kenapa waktu itu kau langsung pulang tanpa menungguku? Dan kenapa kau sepertinya selalu mengerjakan semua sendirian?”, tanyaku padanya. Ia tidak menjawab apapun, hanya terus diam, entah mungkin karena dia masih sedikit sakit Dengan cepat tanganku menyentuh dahinya untuk memeriksa apakah dia masih sakit atau tidak, sepertinya dia ingin menjauh, jadi kutahan saja tubuhnya
”Diamlah sebentar....Aku tidak akan macam-macam”, akhirnya diapun tidak jadi menjauh, hanya berdiri tenang menungguku selesai mengetahui suhunya. Entah kurasakan ada sesuatu yang berdegup kencang lagi di dalam dadaku, sejak bertemu Minami-san kemarin, tidak bisa berhenti, justru kalau ketemu makin kencang. Kurasakan ada yang berdegup lebih kncang dari dadaku, benar...Itu suara yang ada dalam tubuh Minami-san, dia juga sepertinya merasakan yang sama denganku. Aku masih tidak mengerti perasaan apa ini, tapi yang pasti sekarang aku ingin mengawasi Minami-san agar tidak memaksakan dirinya hari ini
Akhirnya setelah selesai latihan pagi dan bel masuk berbunyi, seperti biasa Minami-san menyuruh anak-anak di kelas untuk diam, mungkin krna dia masih sedikit sakit, tenanga dan suaranya kurang keluar, jadi aku membantunya dengan menghantam tanganku ke meja agar semuanya diam, benar saja anak-anak langsung diam dan tak bersuara.
”Ada apa? Biasanya kau tidak pernah ingin membantunya menenangkan kelas?”, kata Wakashi, dia tahu kalau aku membantu Minami-san meski aku tidak pernah menatakannya
”Tidak....Lama-lama aku hanya jadi merasa kesal saja kalau kelas berisik”, aku berbohong untuk menutupinya, tapi sepertinya percuma! Wakashi pasti sudah tahu tujuanku adalah untuk membantu Minami-san
Istirahat siangpun tiba, entah kenapa aku tidak ingin ke kelas Shishido-san, melainkan mencari Minami-san. Karena tidak ketemu, akhirnya akupun pergi ke atap untuk makan sendiri di sana.
Di atap kulihat tak ada seorangpun, jadi aku bisa makan dengan tenang, tadinya kupikir begitu, tapi ternyata ada seseorang di atas tangga atap, saat kulihat, ternyata Minami-san! Benar itu Minami-san!!
”Minami-san....Kau sedang apa di sini?”, sontak ia menengok ke arahku, aku kaget dengan yang kulihat, air mata! Minamni-san menangis...
”Mi...Minami-san...Kau kenapa?? Ap kau masih sakit?? Atau kau---”, tiba-tiba Minami-san memelukku dengan erat
”Jangan...Kau tidak boleh melihatku!! Lupakan yang kau lihat!!”, makin erat dia memelukku, jantungku makin berdegup kencang, entah kenapa aku tak bisa menontrol diriku, aku membalas pelukannya dengan erat
”Aku tidak akan melihatmu, menangislah dalam pelukanku...”, aku tidak tahu apa yang kubicarakan tadi, tapi saat ini aku ingin membuatnya tenang
+++
Setelah lelah menangis, Minami-san melepaskan pelukannya, mukanya memerah dan terlihat lemas karena menangis
”Maaf, ya...Padahal kau tidak tahu apapun, tapi aku malah mendadak memelukmu...Aku...Tidak ingin ada yang melihatku menangis...”, dia tersenyum memaksa, saat itu aku mengetahui kalau dia memaksakan diri selama ini
”Kau....Selama ini memaksakan diri, ya?”, tanyaku padanya dan langsung membuatnya menoleh padaku
”Benar...Tapi kalau tidak begitu aku tidak akan diakui...Mereka tidak akan tahu perasaanku!”, nadanya terdengar kesal
”Maukah kau menceritakan padaku? Aku....sedikitnya ingin mengurangi bebanmu”, awalnya ia diam tak menjawab, kemudian ia tersenyum tipis
”Kau tahu....Orang tuaku meninggal saat umurku 10 tahun, saat itu adik-adikku masih bayi jadi aku harus merawat mereka sekaligus sambil sekolah dan mengerjakan urusan rumah tangga, beberapa anak saat itu mengejekku karena aku tidak punya orang tua dan katanya.....Aku tidakbisa dibanggakan! Kalau tidak punya orang tua tak ada artinya! Itu yang mereka katakan padaku, aku kesal mendengarnya jadi kubuktikan kalau aku bisa melakukan semua al yang bahkan mereka tak bisa”
Saat kudengar ceritanya, aku ikut merasa sedih...Tak kusangka dia ternyata memiliki masa lalu yang cukup kelam, jau berbeda denganku. Pantas saja dia selalu bersikap tegas, dia menutupi perasaannya saat di Sekolah
”Maaf, ya...Aku tidak tahu apapun tentang kau...Selama ini aku selalu berpikir yang jelek tentangmu karena kau selalu tegas dan bersikap tanpa ampun, bahkan aku sampai berpikir kalau kau membenciku, tapi....Sepertinya kau memang benci padaku, ya..Habis kau terus marah padaku, sih”
”Bu....Bukan!! A...Aku sama sekali tidak membencimu!! Ma...Maaf kalau aku selalu memarahimu, tapi...Aku hanya merasa kalau kau bisa dijadikan pelampiasan stressku karena sifatmu ramah dan baik hati apalagi kau hampir tidak pernah marah, makanya aku selalu marah padamu...Aku ini jahat!! Padahal kau sama sekali tidak salah apapun, tapi aku malah terus memarahi dan menyalahkanmu, aku bukan orang baik...”
”Mungkin saat ini orang tuaku kecewa padaku....”, matanya mulai mengeluarkan air mata lagi jadi aku langsung memeluknya dengan erat
”Maaf..Kau ridak ingin dilihat saat menangis, kan? Tapi kau bebas menangis jika di depanku...Aku tidak akan marah meski kau melampiaskan stressmu padaku...”, tubuhnya yang tadi gemetar mulai tenang, akupun melepaskan pelukanku dan melihat wajahnya, mukanya benar-benar merah padam, melihat wajahnya saat itu benarbenar manis...Entah kenapa aku benar-benar tak bisa mengontrol diriku lagi bahkan sudah tak bisa berpikir lagi, mendadak aku menahannya di lantai dan menciumnya
”NNGG!!”, matanya terbelalak kaget, tubuhnya terus meronta...Tapi aku sudah benar-benar tak bisa mengontrol diriku lagi, aku terus menahan ciumanku hingga terus membuatnya meronta.
Setelah beberapa menit akhirnya aku melepaskan ciumanku padanya dan baru sadar atas apa yang kulakukan tadi
”Mi...Minami-san...Ma...Maaf...Tadi aku...”, aku kalap atas tindakanku tadi, saat kulihat, lagi-lagi Minami-san menangis. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri, padahal tadi dia sudah cerita semua padaku tapi balasanku mlah melakukan semua itu, aku benar-benar payah!! Tapi...Saat ini akhirnya aku tahu perasaan yang membuat dadaku sakit dan jantungku terus berdegup kencang saat bersama Minami-san...Ya...Aku suka padanya...
”Maaf...Aku tidak bermaksud untuk menciummu dengan paksa...Aku tidak bisa mengontrol diriku sama sekali tadi...Tapi jujur...Aku tidak ingin melihat kau menangis...Karena....Aku suka kau...”, wajahnya terlihat sangat kaget...Aku sadar kalau saat ini dia pasti akan lebih membenciku melebihi sebelumnya, apalagi aku sudah seenaknya menciumnya, dadaku terasa sangat sesak kalau memikikan dia akn lebih membenciku, maka kuputuskan untuk pergi dari sini dan menenangkan diri
”Sekali lagi aku minta maaf, ya...Kau pantas membenciku...Aku...Akan menenangkan diriku....Jadi....Aku tidak akan ikut pelajaran setelah ini...”, aku pun menuruni tangga dan berjalan menuju pintu untuk keluar
”BODOH!!!!”, sauara yang sudah tak mungkin lagi tak kukenali...Minami-san...Dia menangis dan berteriak padaku
”SEENAKNYA SAJA...KAU PERGI SETELAH MEREBUT CIUMAN PERTAMAKU!!!”, dadaku terasa sesak mendengarnya, wajar kalau dia marah...Nada suaranya kembali tegas seperti saat di kelas, hanya saja yang berbeda adalah dia mengatakan itu sambil menangis, aku berniat untuk mengacuhkannya
”JANGAN PERGI KAU!! KAU...TIDAK BOLEH PERGI!!! KAU...Belum...Mendengar jawabanku, kan...?”, suaranya semakin pelan saat kulihat air matanya sudah membasahi seluruh wajahnya
”Tidak perlu....Aku tahu kau akan menolakku, apalagi kau bilang aku sudah mebcuri ciuman pertamamu,kan”, aku terus berjalan ke pinu
”Jangan seenaknya memutuskan!! Oootori-kun bodoh!! Kenapa kau pergi tanpa mendengarku dulu!!”, tiba-tiba saja ia lompat dari atas puncak atap, karena tidak mau ia jatuh, akupun bersiap untuk menangkapnya, tetapi yang terjadi malah ia menciumku hingga kami berdua jatuh di lantai
”Kau curang...Kau malah membuatku makin menyukaimu dengan pelakuanmu tadi!! Dasar bodoh!! Selama ini...Kau tidak pernah sadar akan perasaanku, kan...”, aku kaget mendengarnya, Minami-san....Suka padaku? Bukannya justru dia membenciku...?
”Aku bohong saat bilang kau pelepas stressku....Aku memarahimu karena terlalu gugup...Aku...Tidak bisa bersikap tegas di depan orang yang kusuka, jadi...Tanpa sadar aku malah marah padamu.....Tapi..Kenapa sekarang setelah kau menciumku malah seenaknya pergi!? Kau bodoh!!”, dia menangis kembali di atas tubuhku yang masih tertidur karena gagal menangkapnya tadi
”Minami-san...menyukaiku...?”
”Sudah lama aku suka padamu, bodoh!! Kau orang yang sangat baik dan ramah, kau juga sangat gigih berusaha dalam tennis, sejak kelas 1 aku sudah sangat menyukaimu...”, aku terkejut mendengarnya, wajahnya memerah, kupikir saat ini wajahku juga memerah karena wajahku terasa panas
”Anoo...Ka...Kalau begitu...Boleh aku memelukmu saat ini? Aku...Benar-benar merasa kalau wajahku panas dan memalukan kalau dlihat olehmu”
”I...Iya...Bo...Boleh..”, wajahnya benar-benar merah padam, aku bangun dari posisiku tiduran tadi dan langsung memeluknya tanpa memberitahunya
”O...Ootori-kun...A...Anoo...”
””Panggil aku ”Choutaro”......Yui...”, akupun melepas pelukanku karena ingin melihat wajahnya yang masih sangat memerah itu
”Cho....Choutaro...Kun”, dia terbata-bata, aku tahu kalau saat itu dia gugup mengatakannya
”Iya...Yui...Aku cinta padamu”
”Ng...Aku...juga sama...”
”Mulai saat ini...Jangan memarahiku lagi, ya”, kataku sedikit tertawa
” Iya...Aku tidak akan memarahimu lagi..”, aku tersenyum padanya, dan iapun membalas senyumanku dengan senyuman termanis yang selama ini tak pernah kulihat.
Gadis pertama yang kucintai adalah seorang gadis bersikap tegas dan bertanggung jawab, dia juga seoarang gadis yang cinta tumbuhan dan perhatian pada orang lain, memendam semuanya sendirian dan selalu memaksakan diri, kali ini...Tak akan kubiarkan dia menanggung semuanya sendirian! Karena aku akan selalu berada di sisinya....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar